Thursday, November 22, 2007

Turis Pantai Kuta "Lari" ke Darat

Kuta, Rabu--Sebagian besar turis mancanegara yang semula datang ke Pantai Kuta untuk tujuan berenang atau berselancar di laut, sempat mengalihkan tempat rekreasinya ke wilayah darat.


Tidak sedikit turis yang akhirnya "balik kanan" begitu melihat kawasan pantai penuh dengan taburan bangkai ikan yang digiring ombak dari tengah laut, demikian pemantauan Antara di Pantai Kuta, Bali, Selasa.

Turis yang urung beraktifitas di pantai, terlihat langsung menuju areal pertokoan yang menjual aneka barang suvenir, atau bergerak ke ruang bar dan restoran, bahkan kolam renang yang terdapat di sejumlah hotel berbintang.

Petugas pada Posko SAR pantai Balawista Kuta, mengakui kalau sebagian turis sempat mengurungkan niatnya untuk beraktifitas di pantai setelah melihat cukup banyak bangkai ikan bertaburan.

Sebagai gantinya, mereka memilih untuk rekreasi ke wilayah darat, termasuk dengan meninggalkan wilayah Kuta menuju daerah lain di Pulau Dewata.

Ketua Satgas Keamanan Pantai Kuta, IG Ngurah Tresna menyebutkan, turis "balik kanan" dari Pantai Kuta hanya berlangsung pada pagi hingga siang hari saja, sementara pada sore harinya aktifitas mereka kembali normal.

"Anda bisa lihat sendiri, kini sudah banyak lagi turis yang turun berselancar dan berenang," ucapnya.

Senada dengan Tresna, Kabag Humas Pemkab Badung Drs Eka Merthawan menyebutkan, turs kembali turun ke laut setelah kawasan bantai yang semula ditaburi bangkai ikan berhasil dibersihkan.

"Aparat kita bekerja sama dengan masyarakat setempat telah berhasil memungut dan menguburkan bangkai-bangkai ikan yang cukup banyak jumlahnya itu," katanya.

Pada garis pantai sepanjang kurang lebih 10 kilometer itu, hampir di setiap sisinya ditaburi ikan mati yang mayoritas berukuran sebesar gagang telepon rumah atau telapak kaki bocah usia sekolah taman kanak-kanak.

Adanya "banjir" ikan yang beberapa di antaranya telah tercium bau busuk, sempat membuat pantai yang merupakan pusat kunjungan wisatawan mancanegara itu menjadi "resem" atau cukup menjijikkan.

Mengenai penyebab mati dan terdamparnya ribuan ikan, baik Kabag Humas maupun petugas pada Dinas Perikanan dan Kelautan Badung, mengaku belum dapat menyebutkan sekarang.

"Kami belum dapat katakan tentang penyebab matinya ikan di laut, karena masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, termasuk lewat proses laboratorium," kata Eka menjelaskan.

Peristiwa yang muncul di Kuta kali ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada awal dan pertengahan Pebruari lalu terjadi peristiwa serupa.

Pada kejadian sekitar sembilan bulan lalu itu, petugas menyebutkan bahwa ikan cukup banyak yang mati akibat adanya tebaran plankton yang mengandung racun.

Plankton beracun jenis dinoflagelata yang ketika itu terjadi "blooming" (ledakan tumbuhan laut), sebagai dampak dari fenomena alam El-Nino, diduga kuat telah dimakan oleh berbagai jenis ikan hingga mengakibatkan kematian bagi satwa air tersebut.

Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM) lewat hasil penginderaannya dari satelit yang terpasang, mengakui kalau di wilayah perairan Selat Bali sempat terjadi "blooming" pitoplankton yang disebut "red tide", yang mencapai puncaknya pada 28 Januari 2007.

Namun pihak SEACORM yang bekantor di Jembrana, Bali, belum dapat memastikan kalau penyebab matinya ikan ketika itu akibat adanya plankton yang mengandung racun. Memang "blooming" plankton, tetapi tidak ada jenis dinoflagelata yang beracun, katanya.



Sumber: Antara
Penulis: jodhi

No comments: