Tuesday, November 22, 2016

JALAN JALAN KE KL


Semula gak ada niatan pergi ke negeri seberang apalagi negeri yang sering disebut negara serumpun. Masalahnya jalan jalan kami ke tempat wisata negeri sendiri saja banyak yang belum dikunjungi. 

Nih karena adik ipar yang kerja di bandara Kuala Namu mengajak jalan jalan ke KL, alasannya ada promo tiket murah Air Asia. Berangkatnya tanggal 30 Juli 2016. 

Okey kami ikut kataku. Berangkat dari Bandara Kuala Namu sore mengjelang maghrib. Segala persiapan tiket sudah dipersiapkan oleh adik ipar berikut dengan keluarganya, sementara kami hanya berdua berhubung kalau ke luar negeri kan harus ada pasport. Anak kami yang paling besar kepengen sih ikut namun terkendala dengan pasport yang belum dibuat. 

Kebetulan pasport yang kami punya dibuat setahun sebelumnya sewaktu membawa orang tua berobat ke Penang. Sewaktu di Penang kami gak sempat jalan jalan. Hanya terfokus membawa orang tua saja berobat. 

Di bandara Kuala Namu kami langsung saja menuju arrival  dan beristirahat di selasar yang telah disediakan menunggu waktu keberangkatan. 






JALAN JALAN DI SABANG



Hari kedua kami di pulau Weh ini, kami diajak melihat pantai sumur tiga. Wuihhh ... sungguh indah alam di propinsi ini. Ciptaan Allah Swt., sungguh deburan ombaknya nan biru dilambari dengan angin sepoi terkadang anginnya  berdesir kencang menambah takjubnya akan keindahan alam ciptaan Yang Mahakuasa ini. 








Juga diantar oleh bang sopir ke pantai goa benteng Jepang.








Monday, November 21, 2016

JALAN JALAN KE PULAU WEH (SABANG)


Kami berencana pergi ke Sabang melihat tanda tanda kebesaran Allah Swt.Menurut cerita beberapa teman yang sudah sampai di sana pemandangannya sangat indah. 

Berangkat tanggal 24 Desember 2015 pagi menjelang subuh, melaksanakan sholat subuh  di pinggir jalan menuju ke kota Binjai sambil menunggu rombongan teman seperjalanan. 

Kami berangkat dengan tiga unit mobil yaitu  Toyota avanza 2 mobil dan satu lagi Toyota rush terdiri dari empat keluarga. 

Semua persiapan keberangkatan sudah disiapkan sebelumnya yaitu bekal makanan seperti nasi dengan lauk pauknya diusahakan oleh isteriku dapat bertahan untuk beberapa hari. Ada membawa tempe bacem kesukaanku dan sedikit ikan digoreng serta pepes ikan ditambah juga ayam goreng berikut sambel pecalnya. 






Kami singgah di sebuah mesjid yang aku gak tahu di mana posisinya namun sudah memasuki wilayah propinsi NAD (Nangroe Aceh Darrussalam) kebetulan di belakang mesjidnya ada semacam amben atau balai yang memanjang disediakan untuk para pengunjung di situ.  

Ba'da sholat zuhur kami istirahat sekaligus makan siang bersama teman rombongan yang lain. 




Selesai makan siang kami bergerak lagi menuju kota Banda Aceh.Dalam perjalan menuju ke kota Banda Aceh memakan waktu lebih dari setengah hari, kami bergerak tanpa henti. Syukur kondisi mobil yang kami tumpangi dalam kondisi prima. jalan tanjakan dan menurun dilalap oleh sang supir dengan tenangnya. 

Memasuki kota Banda Aceh menjelang maghrib, kami bergerak terus menuju mesjid Baiturrahman. Wah kondisi mesjid ternyata sedang dalam perbaikan, pagar mesjid ditutup oleh seng.

Kami melaksanakan sholat maghrib di mesjid tersebut lanjut dengan jamak sholat isya. 








Selepas maghrib kami mencari penginapan. Haihhh .... gak sangka menjelang tahun baru banyak pelancong yang datang ke kota ini. Penginapan hotel penuh oleh pengunjung yang datang untuk rekreasi. 
Kami terus mencari yang cocok untuk tempat inap malam ini. Yah akhirnya dapat hotel dekat dengan mesjid Baiturrahman yaitu hotel Hip Hop. Weleh weleh harganya per malam 450 ribu rupiah wuih ...  

Tak ape kata si Upin, kami tetap bersedia menginap di hotel tersebut.




Gambar di atas nih isteriku mejeng di depan hotel. 

Esok paginya setelah sholat subuh kami bergerak ke pelabuhan Ule Lheue, Meuraksa Banda Aceh tempat penyeberangan kapal menuju pulau weh. 

Di pelabuhan tersebut sudah banyak pengunjung para wisatawan yang memadati lokasi tempat penyeberangan. Mobil mobil segala jenis sudah banyak berparkiran menunggu keberangkatan dengan ferry  atau kapal roro. Ada sebutan di sini tentang kapal ferry penyeberangan. Jenis kapalnya ada disebut kapal cepat dan kapal lambat. Memesan kapal cepat sudah tidak dapat dipesan lagi. Karcis sudah habis. 

Kami hanya dapat memesan kapal ferry penyeberangan yang bernama KM Tanjung Burang (Kapal Lambat) 




Harga karcisnya lebih murah dari harga harga kapal cepat, dengan waktu perjalanan lebih lama dari kapal cepat.



Sampai di pelabuhan Balohan kami harus cepat mencari mobil sewaan untuk menuju hotel yang telah kami booking dua hari sebelumnya. Lama terkendala oleh harga sewa mobilnya yang belum juga deal dengan anggota yang lain. 



Sambil menunggu kesepakatan yang didapat kami mencoba membeli nasi bungkus untuk makan siang. Setelah sepakat dengan tarif yang ditentukan kami meluncur menuju hotel tempat menginap untuk check in dan menitipkan barang bawaan selanjutnya bergerak menuju pantai iboh.








Gambar di atas kami berpose di pantai Iboh selesai makan nasi bungkus yang kami beli ditambah dengan lauk pauk yang kami bawa dari Medan. 









Sungguh sayang dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat dan juga padatnya kenderaan menuju nol kilometer kami terhalang menuju wisata nol kilometer itu. 

Bang Sopir yang membawa kami mengatakan gak sempat lagi menuju ke sana hari ini dikarenakan padatnya orang yang berkunjung ke sana (arus balik). Jalur perjalanannya pun juga hanya dapat dilalui selisih mobil yang sempit. 








Setelah puas kami beristirahat di pantai Iboh, kami bergerak pulang menuju hotel penginapan. Di perjalanan bang sopir mengajak kami singgah di sebuah pantai dan kami berfose di sana 




Aku gak tahu apa namanya pantai ini tapi sungguh sangat indah dipandang. kami berpose menjelang matahari terbenam, suasananya pun sungguh temaram. 

Lelah sudah hari ini rasanya perjalanan yang kami tempuh akhirnya kami kembali ke hotel penginapan untuk beristirahat.

Thursday, April 25, 2013

LIBURAN DI PULAU BERHALA

Panaroma pantai pasir putih dan batuan vulkanik yang begitu cantik, itulah yang bisa Anda temukan di Pulau Berhala. Disebut Pulau Berhala, karena memang dahulu pulau ini terkenal sebagai tempat yang disembah oleh orang-orang tertentu. Pulau ini  10 km persegi kurang lebih luasnya. Di bagian barat, kawasan pantai yang landai lebih mendominasi, sedangkan di bagian Timur tampak tebing-tebing curam batu karang menantang. Jika laut sedang surut, Anda dapat mengelilingi Pulau Berhala secara penuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 6 jam.
Dikelilingi sabuk terumbu karang, membuat Pulau Berhala makin menarik. Ada banyak jenis ikan hias di sini. Pantai karang di kawasan Pulau berhala memang kaya akan biota laut.

berhala Pulau Berhala, Destinasi Wisata yang Jadi Sengketa
Pulau Berhala dikelilingi oleh hutan hijau yang masih alami. Bentuk pulau ini jika diperhatikan dari atas tampak seperti penyu. Di kedua ujung wilayahnya, ada dua pulau kecil. Yang satu disebut “Sokong Nenek” di arah Tenggara, dan yang satu lagi diberi nama “Sokong Siembah” di arah Barat. Dengan hanya berjalan kaki melintasi pasir putih ketika pantai surut Anda bisa tiba di Pulau Sokong Nenek. Sedangkan untuk mencapai Pulau Sokong Siembah Anda harus menumpang boat.
pulau berhala 1 Pulau Berhala, Destinasi Wisata yang Jadi Sengketa

pulau berhala Pulau Berhala, Destinasi Wisata yang Jadi Sengketa

Ada keistimewaan unik yang dimiliki Pulau Berhala. Di daerah pantainya terdapat mata air tawar yang tak pernah kering. Air tawar dimanfaatkan dan disalurkan ke pos Dishubla dan pos penjaga pantai TNI AL. Dari sini, air tawar disalurkan juga ke sebuah penampungan air tawar tepat di depan pos jaga. Biasanya air tawar di sini dimanfaatkan oleh para turis dan nelayan.
Pulau Berhala berpenghunikan sekitar 9 Kepala Keluarga dari Suku Melayu Riau. Seperti warga lokal kawasan pantai pada umumnya, penduduk di Berhala ini bermata pencaharian sebagai nelayan. Di Pulau Berhala, terdapat pula peninggalan sejarah dan budaya, yaitu Makam Datuk Paduko Berhalo dan Benteng Peninggalan Jepang.
Selama 30-an tahun, Pulau Berhala menjadi rebutan dua provinsi, yakni Jambi dan Riau. Pulau ini memang letaknya diapit oleh dua provinsi tersebut. Sengketa mengenai pulau ini sudah dibawa hingga Mahkamah Konstitusi. Potensi wisata di pulau ini cukup besar, namun fasilitas yang tersedia masih minim. Penginapan belum ada, dan lokasinya sulit dijangkau. Hanya dalam beberapa bulan setiap tahunnya Pulau Berhala bisa dikunjungi.

dikutip dari Uniqpos

Wednesday, April 10, 2013

Indahnya Pulau Pandang


Dani Gunawan pernah menulis dalam blog-nya sebagai berikut : 

Kenalkah anda dengan pulau Pandang? Belum tentu iya. Tidak banyak informasi mengenai pulau Pandang, bahkan bagi warga Sumut sendiri kebanyakan tidak mengetahui keberadaan pulau Pandang yang ternyata terletak di kabupaten Batubara. Pulau eksotis nan cantik ini bak permata mentah yang belum diasah. Keindahannya akan terus tersembunyi selama dinas pariwisata pemkab Batubara tidak berusaha mengasah potensi wisata pulau ini.
Pulau Pandang ga terlalu jauh dari bibir pantai. Perjalanan melalui Tanjung Tiram hanya menempuh waktu selama kurang lebih dua jam saja. Gak seperti perjalanan ke pulau Berhala yang memakan waktu kurang lebih empat jam. Dari segi keindahan, gak diragukan lagi. Kelelahan kami karena tersengat teriknya mentari maupun mabuk laut karena goyangan ajib-ajib perahu pun sirna ketika melihat hamparan pasir putih dan susunan batu yang keren abis. Belum lagi pantainya yang jernih bagai zamrud yang berkilau.
landscape pulau pandang
Pulau Pandang, zamrud yang belum diasah
Surganya Pemancing
Bukan rahasia lagi kalo pulau Pandang merupakan surganya pemancing. Beragam jenis ikan dari sodaranya ikan gembung ampe ikan gelek pun ada. Kalo ikan GT mah udah biasa… :D
Sayangnya kami ga hobi mancing, tapi hobi makan ikan hasil mancing. Kebetulan awak kapal beruntung mendapatkan ikan hasil mancing. Kelanjutannya bisa ditebak, ikan tersebut bertransformasi menjadi sumber tenaga kami… hehe…
Modelnya Fotografer
Fotografer bakal puas ngambil foto di pulau ini. Ngedapetin sunrise ama sunset ga sulit di pulau ini. Jaraknya ga jauh…! Belum lagi pasir putih yang menggoda untuk diabadikan sebanyak-banyaknya. Tumpukan batu di pinggir pantai bakal mbuat pecinta slow speed ngiler abisss! Bagi para fotografer yang hendak berkunjung, siapkan lensa wide anda, isi baterai ampe full, kalo perlu bawa cadangan atau pake battery grip sekalian. Jangan lupa bawa tripod dan berbagai filter anda. Jangan sampe kamera anda nganggur karena baterai minta ampun padahal waktu anda di pulau masih lama. Cek juga tripod anda (mana tau uda mau patah) supaya kualitas gambar ga terganggu ketika ngambil foto landscape.
sunrise di pulau pandang
Sunrise di pulau Pandang
Duka di Pulau Pandang
Tidak lengkap rasanya bila masakan hanya dibumbui dengan rasa manis. Tentu diperlukan pula rasa asin agar gurihnya maknyuss… Ya, karena ga da dermaga, perahu kami terpaksa berlabuh agak jauh dari pantai, di tempat yang agak dalam dengan hiasan karang nan tajam dan banyak berkeliaran para babi berbulu eh, bulu babi maksudnya. Beberapa kaki uda jadi korban gesekan karang dan gatalnya om bulu babi.
menuju daratan
Naek boks ikan ke pulau Pandang :D
Sulitnya air bersih juga jadi masalah utama disini. Disarankan membawa persediaan air bersih yang cukup untuk air minum kalo ga mau tenggorokan kering karena ga ada air. Makanan juga ga kalah pentingnya dengan minuman. Persiapkan makanan yang ga gampang basi/busuk.
Tidur Diiringi Lantunan Deru Ombak
Bagi yang menyukai petualangan, anda bisa menggunakan tenda atau sleeping bed. Kalo ga suka di alam bebas, bisa nginep di mess, tapi fasilitasnya kurang memadai. Jangan lupa siapkan lotion anti nyamuk supaya tahan serangan nyamuk yang uda lama ga ngisep darah manusia… (kayak vampir aja :D)
batu di atas awan
Negeri di atas awan
Pulau Berhala vs Pulau Pandang
Dari segi ukuran, pulau berhala kira-kira tiga kali lebih besar dibandingkan pulau Pandang. Tetapi dari segi kecantikan, menurutku lebih asoy lagi si pulau Pandang. Kekurangan pulau Pandang adalah karena tidak dirawat. Pulau Pandang dan Berhala sama-sama menjadi tujuan akhir sampah-sampah yang terbawa oleh ombak. Bedanya, pulau Berhala dihuni oleh Marinir yang juga turut membersihkan sampah-sampah tersebut. Sedangkan pulau Pandang hanya dihuni oleh penjaga mercusuar, sehingga kekurangan tenaga untuk membersihkannya (di beberapa bagian menjadi tepat persinggahan sampah). Sumber penerangan di pulau Berhala berasal dari panel tenaga matahari, sedangkan di pulau Pandang berasal dari generator. Persediaan sumber air lebih terjamin di pulau Berhala. Kamar mandi pun jelas bentuknya. Kalau di pulau Pandang hanya mengandalkan satu buah sumur tanpa pintu, hanya sekat di setengah bagiannya. Air minum bisa diambil dari tempat persediaan penjaga mercusuar.
di akhir shalat
Nelayan yang telah menunaikan ibadah shalat
Akhir kata, tiada yang senyaman rumah sendiri. Walopun pulau Pandang indah dipandang, tetep aja air coklat di Tanjung Tiram membuat kami tersenyum lega. Finally back to home… :)
Nah gimana teman-teman ! Tertarik gak untuk pergi ke sana! 
Mari kita nikmati pesona alam negeri kita nan indah ini!

Thursday, November 22, 2007

Sungai Serayu Dikembangkan Jadi Obyek Wisata


Banyumas, Rabu--Kawasan Sungai Serayu yang melintasi Kabupaten Banyumas segera dikembangkan menjadi kawasan objek wisata baru dengan nama "Serayu River Voyage (SRV)".

"Kawasan yang akan dikembangkan sebagai objek wisata baru itu berada di sekitar Bendung Gerak Serayu-Gambarsari," kata pemimpin kegiatan SRV Deskart Sotyo Djatmiko di Purwokerto, Rabu.

Menurut dia, Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat segera menyusun rencana bisnis (renbis) pengembangan proyek tersebut.

Ia mengatakan, penyusunan renbis tersebut berdasarkan surat rekomendasi Dirjen Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Departemen Pekerjaan Umum (DPU) nomor HK.04.04-DA/687 pada tanggal 13 November 2007 tentang pemanfaatan sekitar Sungai Serayu dan Bendung Gerak Serayu-Gambarsari serta sekitarnya untuk pariwisata.

"Renbis tersebut akan memuat perkiraan jumlah pengunjung, besaran pendapatan, modal yang akan dikucurkan, serta prediksi waktu pengembalian modal," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Banyumas juga sedang mempersiapkan materi kerja sama dengan Pemerintah Pusat yang berisi hak dan tanggung jawab pengelolaan sungai Serayu untuk pariwisata serta konservasi wilayah sekitarnya termasuk bagi hasil dengan pusat.

Untuk mengembangkan SRV, kata dia, Disparbud Banyumas telah mengajukan anggaran sebesar Rp3,176 miliar untuk membuat sebuah dermaga serta rencana tata ruang dan wilayah.

Menurut dia, saat ini tiga investor sudah berminat mengembangkan SRV, dua asal Jakarta dan satu berkebangsaan Kanada.

"Bahkan, masyarakat sekitar telah membentuk Paguyuban Masyarakat Pariwisata Serayu (PMPS) dengan anggota 80 orang untuk mendukung pelaksanaan konservasi serta tata ruang dan wilayah sekitarnya," katanya.



Sumber: Antara
Penulis: jodhi

Turis Pantai Kuta "Lari" ke Darat

Kuta, Rabu--Sebagian besar turis mancanegara yang semula datang ke Pantai Kuta untuk tujuan berenang atau berselancar di laut, sempat mengalihkan tempat rekreasinya ke wilayah darat.


Tidak sedikit turis yang akhirnya "balik kanan" begitu melihat kawasan pantai penuh dengan taburan bangkai ikan yang digiring ombak dari tengah laut, demikian pemantauan Antara di Pantai Kuta, Bali, Selasa.

Turis yang urung beraktifitas di pantai, terlihat langsung menuju areal pertokoan yang menjual aneka barang suvenir, atau bergerak ke ruang bar dan restoran, bahkan kolam renang yang terdapat di sejumlah hotel berbintang.

Petugas pada Posko SAR pantai Balawista Kuta, mengakui kalau sebagian turis sempat mengurungkan niatnya untuk beraktifitas di pantai setelah melihat cukup banyak bangkai ikan bertaburan.

Sebagai gantinya, mereka memilih untuk rekreasi ke wilayah darat, termasuk dengan meninggalkan wilayah Kuta menuju daerah lain di Pulau Dewata.

Ketua Satgas Keamanan Pantai Kuta, IG Ngurah Tresna menyebutkan, turis "balik kanan" dari Pantai Kuta hanya berlangsung pada pagi hingga siang hari saja, sementara pada sore harinya aktifitas mereka kembali normal.

"Anda bisa lihat sendiri, kini sudah banyak lagi turis yang turun berselancar dan berenang," ucapnya.

Senada dengan Tresna, Kabag Humas Pemkab Badung Drs Eka Merthawan menyebutkan, turs kembali turun ke laut setelah kawasan bantai yang semula ditaburi bangkai ikan berhasil dibersihkan.

"Aparat kita bekerja sama dengan masyarakat setempat telah berhasil memungut dan menguburkan bangkai-bangkai ikan yang cukup banyak jumlahnya itu," katanya.

Pada garis pantai sepanjang kurang lebih 10 kilometer itu, hampir di setiap sisinya ditaburi ikan mati yang mayoritas berukuran sebesar gagang telepon rumah atau telapak kaki bocah usia sekolah taman kanak-kanak.

Adanya "banjir" ikan yang beberapa di antaranya telah tercium bau busuk, sempat membuat pantai yang merupakan pusat kunjungan wisatawan mancanegara itu menjadi "resem" atau cukup menjijikkan.

Mengenai penyebab mati dan terdamparnya ribuan ikan, baik Kabag Humas maupun petugas pada Dinas Perikanan dan Kelautan Badung, mengaku belum dapat menyebutkan sekarang.

"Kami belum dapat katakan tentang penyebab matinya ikan di laut, karena masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, termasuk lewat proses laboratorium," kata Eka menjelaskan.

Peristiwa yang muncul di Kuta kali ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada awal dan pertengahan Pebruari lalu terjadi peristiwa serupa.

Pada kejadian sekitar sembilan bulan lalu itu, petugas menyebutkan bahwa ikan cukup banyak yang mati akibat adanya tebaran plankton yang mengandung racun.

Plankton beracun jenis dinoflagelata yang ketika itu terjadi "blooming" (ledakan tumbuhan laut), sebagai dampak dari fenomena alam El-Nino, diduga kuat telah dimakan oleh berbagai jenis ikan hingga mengakibatkan kematian bagi satwa air tersebut.

Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM) lewat hasil penginderaannya dari satelit yang terpasang, mengakui kalau di wilayah perairan Selat Bali sempat terjadi "blooming" pitoplankton yang disebut "red tide", yang mencapai puncaknya pada 28 Januari 2007.

Namun pihak SEACORM yang bekantor di Jembrana, Bali, belum dapat memastikan kalau penyebab matinya ikan ketika itu akibat adanya plankton yang mengandung racun. Memang "blooming" plankton, tetapi tidak ada jenis dinoflagelata yang beracun, katanya.



Sumber: Antara
Penulis: jodhi

Aruh Buntang: Prosesi Etnis Dayak Maanyan

Rumah Padir Luit di Desa Warukin, Kecamatan Tanta, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pekan kedua Juli lalu menjadi pusat perhatian warga. Saat itu di rumah kayu berukuran 10 x 10 meter tersebut digelar prosesi langka etnis Dayak Maanyan yang disebut aruh buntang atau mambuntang.

Buntang adalah salah satu tahapan penting dalam perjalanan hidup masyarakat Dayak Warukin terkait dengan kematian. Aruh (upacara) itu bertujuan mengangkat arwah orang yang meninggal dari alam kubur ke alam roh yang penuh kesempurnaan sekaligus menjadi simbol bakti, hormat, dan tanggung jawab keluarga dan warga terhadap mendiang.

Kali ini warga menggelar prosesi bagi mendiang ayah dan kakak Padir Luit. Ritual itu sebenarnya bagian dari religi Hindu Kaharingan yang dianut sejumlah suku Dayak, tetapi Padir yang menganut agama Katolik tetap menjalankannya.

Dalam ruang tengah rumah Padir disusun beberapa altar sesaji yang berisi beras, kelapa, gula merah, ayam kampung, telur, lemang, ketupat, semangka, pinang, nanas, dan ketan. Suguhan diletakkan di sekeliling tiang bambu yang sudah disiapkan.

Pada puncak tiang bambu tersebut digantungkan beberapa ancak (tempat sesaji dari bambu). Semua sesaji dipaparkan setelah puncak ritual berupa pemotongan kambing, babi, dan ayam dilaksanakan.

Upacara mambuntang saat itu berlangsung lima hari. Ritual dipimpin tiga perempuan balian-rohaniwan Kaharingan yang sekaligus warga suku Dayak Maanyan-yang diundang tuan rumah.

Mereka tampil dengan mengenakan tapih bahalai (kain batik) yang dikenakan seperti sarung. Namun, kain itu dililitkan ke tubuh mereka hingga batas dada. Untuk bagian kepala, para balian mengenakan tutup kudung yang terbuat dari kain batik.

Tampilan para balian terlihat semakin khas karena bagian dada, lengan, dan tangan mereka dipupuri kapur putih. Salah satu di antara mereka, Jenjab (73), yang menjadi balian raden utama bahkan menyematkan sebilah keris di punggungnya.

Ketika memimpin upacara maranggai, ketiga balian raden tersebut duduk mengelilingi sesaji sambil bamamang (membaca mantra) diiringi tetabuhan gendang, gong, dan kenong. Bunyi gemerincing gelang dadas dan gelang kuningan yang berasal dari tangan mereka memperkuat nuansa ritual saat itu.

Penghormatan
Kegiatan buntang kemudian dilanjutkan dengan penggelaran sejumlah tarian, seperti tari giring-giring yang ditampilkan beberapa pemuda dan anak-anak dalam suatu balai di pekarangan rumah tersebut. Hampir setiap malam ditampilkan tarian dayak yang bermakna penghormatan terhadap benda pusaka peninggalan para leluhur mereka, seperti balanai (tempayan), baju rajah, tombak, sumpit, tanduk rusa, dan
mandau.

Benda-benda itu digantungkan di tengah balai bersama gelas tanduk kerbau berisi tuak. Semuanya menyertai tengkorak manusia berumur lebih dari 200 tahun. Tengkorak itu diduga hasil ngayau (pemenggalan kepala)-sebuah tradisi yang telah diakhiri lewatperjanjian damai para kepala suku Dayak di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, pada tahun 1894.

"Sejak itu tengkorak (kepala) hanya disertakan dalam setiap ritual, sedangkan korban sesembahan diganti ayam, babi, kambing, dan paling tinggi kerbau," kata Rumbun, Kepala Adat Dayak Maanyan Desa Warukin.

Pada hari kelima, sesi akhir ritual, kegiatan itu diwarnai pantun. Di balai adat seorang tetua adat duduk di atas gong besar menghadap ke sesaji. Dia didampingi beberapa pemuka adat yang lain. Mereka pun kemudian berbalas pantun. Setelah itu, prosesi diisi dengan acara memutus tali penggantung gelas tanduk kerbau dan meminum
tuaknya secara bergantian. Lalu, prosesi kuda gawi.

Ritual yang terakhir ini dilakukan di ruang depan rumah Padir oleh lima balian laki-laki yang disebut balian bowo. Mereka mengenakan tapih bahalai sebatas pinggang. Beberapa bagian tubuh mereka ditandai titik putih, dihiasi kalung rantai manik-manik, dan taring babi hutan. Kepala ditutupi laung (ikat kepala dari kain
batik).

Sambil bamamang, para balian menampilkan tarian magis yang melelahkan sambil mengelilingi sesaji, seperti beras, tempayan tuak, dan dupa kemenyan. Di atas sesaji tersebut dipasang daun janur dan tapih bahalai. Dalam prosesi ini kelima balian memadu gerak tangan saat membunyikan gelang bowo, sambil bergantian meniru gerakan kuda melompat-lompat kecil.

Gerakan-gerakan itu tampak begitu lincah mengikuti irama gendang, kenong, dan gong hingga pagi menjelang. Mambuntang berakhir setelah para balian mengajak minum tuak bersama.



Sumber: KompasPenulis: M Syaifullah

Lanting, Rumah Terapung Warisan Peradaban Banjar


JIKA berkunjung ke Banjarmasin atau Martapura dan kota-kota lain di Kalimantan Selatan, pastikan selain mengamati rumah banjar di darat juga meluangkan waktu melihat lanting. Lanting merupakan rumah terapung di tepi sungai yang ditambatkan di darat.

Di tepi Sungai Martapura di pusat kota Banjarmasin, juga bisa
dijumpai sisa-sisa rumah lanting. Beberapa di antaranya menjadi tempat tambat speedboat, dan ada juga yang menjadi bengkel yang melayani servis mesin perahu kelotok (perahu bermesin khas Kalsel) serta speedboat.

Pengurus Pusat Pengkajian Islam Bidang Sejarah dan Budaya Banjar, Zulfa Jamalie, mengemukakan, peradaban Banjar seperti peradaban dunia lainnya berasal dari sungai dan lanting itu. "Rumah lanting ada sebelum rumah adat banjar lainnya," ungkapnya.

Zulfa memaparkan, pada abad ke-18 hingga abad ke-19, perairan di Banjarmasin dan Kalsel umumnya masih dijejali rumah-rumah terapung yang disangga balok-balok kayu utuh. Penataan lanting yang berderet itu membuat kagum para pendatang dan masuk dalam berita Dinasti Ming di China tahun 1618 yang menyebutkan, di Banjarmasin ada rumah di atas rakit seperti yang ada di Palembang.

Kini, rumah lanting menjadi kontroversial seiring penataan kota yang tidak berpihak pada penataan kawasan sungai. Lanting
dianggap "mengganggu" pemandangan karena menimbulkan kesan jorok dan kumuh.

WAKIL Sekretaris Lembaga Budaya Banjar Syarifudin R menyebutkan, lanting justru memiliki kearifan tradisional yang tak terpikirkan manusia modern. "Rumah lanting itu menjadi penghambat laju arus sungai yang berarti membantu menahan banjir," ujarnya.

Saat ini lanting tidak hanya terancam oleh penggusuran. Rusaknya hutan dan daerah aliran sungai bagian hulu juga menjadikan lanting makin tak memiliki masa depan. "Banyak kawasan sungai yang dulu sebagai tempat lanting sekarang sudah tidak cocok karena air dangkal waktu kemarau," ungkap Zulfa.

Tidak hanya itu. Langkanya kayu hutan mengakibatkan orang susah mendapatkan balok kayu yang digunakan untuk penopang atau
rakit. "Balok kayu sekarang mahal, tapi sebenarnya bisa diganti dengan drum," ujarnya.

Hingga kini rumah lanting masih bisa ditemui di perairan Sungai Martapura, dan sungai-sungai di bagian dalam. Rumah lanting itu tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi sekarang berkembang menjadi toko terapung.

Di Lokbaintan Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, di Muara Kuin Banjarmasin, dan di Muara Mantuil Banjarmasin, kini bertebaran toko terapung. Rumah portable yang bisa dipindah-pindah itu hingga kini masih berjaya di tengah gelombang modernisasi.

Wali Kota Banjarmasin Midfai Yabani pernah melontarkan gagasan
untuk menata kawasan Muara Mantuil sebagai kawasan percontohan
penataan rumah lanting. Nantinya kawasan itu diharapkan bisa menjadi aset wisata daerah yang khas.

Zulfa berpendapat, ide Midfai Yabani perlu dikembangkan karena
bagaimanapun lanting merupakan warisan peradaban Kalsel, dan menjadi identitas yang tak boleh lepas. "Jika lepas maka hilanglah identitas budaya kita," tuturnya.

Wakil Sekretaris Lembaga Budaya Banjar Syarifudin R menyebutkan, ke depan pemerintah setempat harus mempertahankan mati-matian identitas dan penanda budaya Banjar itu. "Jika ditata, rumah lanting bisa bermanfaat sebagai penahan gelombang air sungai," tegasnya.(AMR)



Sumber: KompasPenulis: AMR

Kawah Putih Alias Gunung Sepuh

Di kawasan Bandung Selatan, berjarak 46 km dari Bandung terdapat sebuah gunung yang bernama Gunung Patuha. Orang tua terdahulu menyebutnya gunung sepuh – dengan ketinggian 2.434 m dpl. Gunung tersebut memiliki 2 buah kawah, yaitu : Kawah Saat di puncak bagian barat, dan Kawah Putih yang berada di bawahnya pada ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah tersebut terbentuk akibat letusan yang konon masing-masing terjadi pada abad X dan abad XII.

Keberadaan Kawah Saat maupun Kawah Putih, semula tidak banyak diketahui orang karena puncak Gunung Patuha oleh masyarakat setempat dianggap angker, sehingga tak seorangpun yang berani menjamahnya.

Kawah Putih dengan segala keindahannya baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang Belanda bernama Peter Junghuhn. Namun demikian, keindahan Kawah Putih tetap tersembunyi – tidak di kenal dan belum bisa dinikmati oleh masyarakat luas – sampai PT. Perhutani mengembangkannya menjadi obyek wisata alam.


Penulis: http://www.bandungtourism.com

Maribaya, Seperti Lukisan tentang Sorga



Air terjun, tempat rekreasi dan jurang yang indah sekali membuat maribaya menjadi tempat peristirahatan yang sangat terkenal , hanya beberapa menit dari timur Lembang, pada hari minggu khususnya tempat ini ramai.

Minibus dan kereta kuda bulak - balik dari lembang. Maribaya menarik bagi banyak penduduk Bandung karena pada hari minggu sumber air panas di alirkan ke kolam kecil untuk umum dan ke berbagai kamar, mandi pribadi. Beberapa orang datang kesini untuk mengajak anak - anak bermain di lapangan dan menunggang kuda (3 dollar / jam), dan banyak hanya berpiknik di taman.

Perjalanan bagus dan mudah melewati jurang Cikapundung ke taman Juanda, kira - kira satu setengah jam. Jalan kecil pertama ke air terjun (jalannya kurang baik, dan tidak mungkin untuk berenang) dan kemudian menuju jurang tidak jauh dari cabang jalan kecil, disebelah kiri jalan lkeluar dari lembah, menurun dan bercabang lagi tepat di situ belok kiri dan akan membawa anda ke pemandangan yang sangat mengesankan sedikit lebih tinggi dari Maribaya, jalan kecil ke arah kanan menuju Dago, berjalan lebih jauh melewati jaln kecil anda akan sampai di taman Juanda, melewati tempat pertahanan jepang pada perang dunia ke II di sepanjang jalan. Jalan yang lain kembali ke Bandung mulai dari tempat parkir curug Omas kira - kira 5 km meter dari persimpangan Lembang, sebelum mencapai maribaya.

Jalan ini memberikan pemandangan yang jauh lebih baik daripada jalan kerta api yang kecil, jalan ini juga menuju taman Juanda atau kira - kira 45 menit lebih lama ke daerah Cimbuleuit. Jalan terus ke arah timur adalah persimpangan Lembang menelusuri pepohonan yang rimbun di sepanjang kjalan, kira - kira 4 km dari Lembang. Perjalanan dimulai dari jurang Cikapundung ke lembah, jika anda pergi dengan menggunakan kereta kuda anda harus berjalan menuruni bukit, tempat parkir Maribaya 5,5 km dari persimpangan Lembang.


Penulis: http://www.bandungtourism.com

Kerajinan Batik Tulis Kudus Dihidupkan Kembali

Kudus, Kamis--Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kudus berupaya menghidupkan kembali usaha kerajinan batik tulis khas Kudus, setelah sejak 1980-an, keberadaannya mulai tenggelam.

"Saat itu, batik tulis Kudus memang kalah bersaing dengan batik cetak (printing), meski batik tulis diklaim memiliki kualitas yang bagus," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kudus, Djoko Indratmo, di Kudus, Kamis.

Akibatnya, kata dia, tidak ada generasi penerus, selain karena meninggal, para perajin dulu banyak yang beralih profesi mengingat usaha tersebut tidak kompetitif.

Selain itu, motif batik tulis khas Kudus yang cukup unik seperti Kapal Kandas, Kawung Tri Busono, Beras Kecer, Sido Mukti, Grori Rucah, tidak lagi dikenal para generasi mudanya.

Meski demikian, pihaknya tetap optimistis, usaha yang dirintisnya sejak tahun 2004 untuk mengembalikan kejayaan kerajinan batik tulis Kudus akan berhasil.

"Kita telah memulai usaha sejak 2004 lalu dengan melakukan perekrutan tenaga yang bersedia dididik menjadi pembatik yang diambilkan dari tim penggerak PKK Kudus," katanya.

Pada tahun 2005, sebanyak 20 orang anggota tim penggerak PKK Kudus tersebut berhasil diikutkan dalam pelatihan membatik. Bahkan, hasil kerajinan batik tulis mereka juga berhasil dipasarkan dan diikutkan dalam sejumlah pameran batik di tingkat lokal, Jawa Tengah, dan nasional.

"Pameran batik tulis di Hotel Graha Santika Semarang pada pertengahan Agustus lalu, juga kita ikuti. Tujuannya memang bukan sepenuhnya penjualan tapi pada pengenalan kembali kerajinan tersebut," katanya.

Menurut rencana, pada pertengahan bulan Nopember 2007, sebanyak 10 orang tenaga terdidik akan mengikuti pelatihan pewarnaan membatik di Pekalongan, Jawa Tengah.

"Saat ini, kita tidak lagi kesulitan mencari tenaga pembatik, hanya saja mereka perlu memperdalam keahlian dalam pewarnaan membatik, pasalnya, kekhasan batik terdahulu ditekankan pada pewarnaan yang lebih kuat," katanya.

Pernyataan senada diungkapkan oleh tokoh batik tulis Kudus asal Desa Ngembalrejo, Tohari bahwa batik Kudus ditekankan pada pewarnaan batik tulis yang lebih matang, tua, kuat, dan tidak mudah luntur.

"Soga (teknik pewarnaan) lebih tebal. Sehingga ketika dikenakan terlihat lebih halus dan bersih," katanya.

Menanggapi usaha Pemkab Kudus menghidupkan kembali kerajinan batik tulis, pihaknya sangat setuju, mengingat batik tulis Kudus mulai surut sekitar tahun 1970-1980.

"Penyebab utama surutnya usaha batik tulis itu diantaranya permintaan yang menurun akibat harga batik cetak yang relatif murah," katanya.

Ia mencontohkan, harga satu potong batik tulis bisa mencapai Rp 600 ribu. Sedangkan batik cetak yang paling mahal dan bagus hanya Rp 150 ribu-Rp200 ribu.

Kondisi tersebut mengakibatkan para pengrajin beralih profesi ke bordir dan konveksi karena lebih menguntungkan. "Jika tidak ada regenerasi, itu memang wajar, karena banyak yang menghentikan usahanya," katanya.



Sumber: Antara
Penulis: jodhi

Wednesday, November 21, 2007

Museum Radya Pustaka Disegel

Liputan6.com, Solo: Tim Reserse Kepolisian Kota Besar Solo menyegel dan menutup paksa Museum Radya Pustaka di Solo, Jawa Tengah, Rabu (21/11). Tindakan ini menyusul terungkapnya aksi pencurian dan pemalsuan lima arca koleksi museum tersebut. Seluruh aktivitas museum dibekukan demi kepentingan penyidikan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Poltabes Solo Ajun Komisaris Polisi Syarif Rahman belum memastikan pembukaan kembali museum.

Sebelumnya, kelima arca bersejarah dicuri pengelola Museum Radya Pustaka. Barang curian itu kemudian dijual kepada kolektor senilai Rp 270 juta per buah. Guna mengelabui petugas dan pengunjung, para pencuri memasang patung imitasi yang dipesan dari para pengrajin patung di Muntilan, Jateng. Tiga pengelola museum, termasuk Kepala Museum Kanjeng Raden Tumenggung Dharmodipuro atau Mbah Hadi sudah ditangkap polisi.

Kemarin petang, kelima arca asli akhirnya kembali ke Solo. Barang curian peninggalan abad kesembilan itu ditemukan di rumah seorang pengusaha berinisial HS di Jakarta. Kelima patung tersebut adalah arca Agustya, arca Durga Mahesa Sura Madini, arca Durga Mahesa Sura Madini II, arca Siwa, dan Arca Mahakala.

Polisi akan memeriksa HS sebagai saksi. Namun, kemungkinan ia bisa dijadikan tersangka jika terbukti terlibat dalam aksi pencurian dan pemalsuan tersebut.

Pada waktu bersamaan, polisi menggelar prarekonstruksi kasus ini secara tertutup. Dua tersangka, KRT Dharmodipuro dan petugas keamanan Jarwadi diikutsertakan. Para tersangka digelandang ke kompleks museum untuk kemudian menuju lokasi penyimpanan lima arca yang dicuri dan dipalsukan. Mereka diminta menunjukkan lokasi perencanaan hingga pelaksanaan pencurian dan pemalsuan patung. Selain Mbah Hadi dan Jarwadi, polisi juga menangkap dua tersangka lain yaitu Gatot dan Heru.(RMA/Wiwik Susilo)

Tuesday, November 20, 2007

Bali, PULAU SERIBU PURA

Penulis : Seri Morina Pelawi

Berbicara tentang pariwisata, Bali selalu menjadi tempat pertama yang terlintas di benak. Pulau yang juga dikenal dengan julukan Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura ini memang memiliki hampir semua hal yang berhubungan dengan pariwisata. Mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya sampai kehidupan beragama masyarakatnya menarik untuk dilihat. Masing-masing memiliki nilai jual sehingga tidak heran jika Bali menjadi salah satu tempat wisata favorit di dunia.

Pulau Bali menawarkan ragam atraksi wisata bagi pengunjungnya. Pantai Kuta, Sanur Nusa Dua hingga ke Dreamland tidak asing lagi di telinga wisatawan. Begitu juga dengan Ubud, Batu Bulan, Goa Gajah, Taman Burung dan Reptil, sudah sering diekspos dalam berbagai acara.

Di luar tempat-tempat di atas, Bali juga masih memiliki objek wisata lain yang tidak kalah menarik untuk dilihat seperti pura. Pura Ulu Watu, Pura Ulun Danu, dan Pura Tanah Lot adalah beberapa contoh pura yang sudah menjadi maskot pariwisata Bali.

Untuk berkunjung ke pura, ada beberapa peraturan umum yang wajig dipatuhi pengunjung. Diantaranya harus mengenakan kamen bagi kaum wanita atau saput untuk kaum pria. Kamen dan saput semacam sarung pelapis yang digunakan umat Hindu-Bali saat bersembahyang. Namun ada juga pura yang mengizinkan pengunjung untuk mengenakan senteng (selendang yang diikat di pinggang) dengan catatan mereka memakai celana panjang atau pendek tetapi ukurannya tidak boleh selutut. Selain itu wisatawan tidak diperkenankan untuk memasuki area tertentu di dalam pura, termasuk jika sedang ada upacara sembahyang.

Seperti agama lain, masyarakat Hidu-Bali juga sangat mensucikan bangunan ibadah mereka. Pendirian pura tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kepercayaan yang mereka anut. Agama Hindu Bali memang memiliki perbedaan dengan negeri asalnya, India. Meski sama-sama menyembah Trimurti (Brahma, Wisnu dan Syiwa), masyarakat Bali juga menyembah dewa tertinggi yang disebut Sanghyang Widi.

Mereka juga mempercayai adanya dunia roh (spirit) di mana roh yang baik tinggal di gunung dan memberi kesejahteraan bagi manusia, sedangkan roh jahat tinggal di pohon-pohon dan pantai-pantai sunyi. Umat Hindu di Bali berusaha menempatkan diri di antara kedua kekuatan roh tersebut.

Sesembahan (canang) diberikan setiap hari kepada roh yang baik maupun yang jahat. Berdasarkan konsep kepercayaan itulah mereka menjalankan kehidupan. Keseimbangan penghormatan itu dapat dilihat dalam pendirian beberapa pura utama (pura luhur).Beberapa diantaranya adalah :

PURA LUHUR BATU KAU

Pura Luhur Batukau atau Batukaro terletak di lereng gunung Batukau (2276 m) yang menjadi salah satu gunung suci umat Hindu Bali. Pura ini dibangun untuk menghormati roh yang terdapat di gunung Batukau.Menurut catatan sejarah pura ini didirikan oleh raja Tabanan dan letaknya masih dikelilingi oleh hutan alami.Udara di sekitar pura sejuk dengan suasana tenagn dan hening. Pengunjung pura ini mayoritas wisatawan asing yang disertai pemandu lokal.